Sunday, 15 November 2009

Ketika Logika dikalahkan Rasa


Hello! Saya kembali lagi.
Kembali untuk berbagi. Well, ini hari minggu dan saya sama sekali belum mengerjakan Laporan Fisika dan Laporan Kimia. Hhhh *menghela nafas panjang*. Alasan pertama karena saya tidak membawa master ketika kembali ke Semarang, dan yang kedua karena saya tidak berminat. Padahal laporan itu dikumpulkan selasa. Dua-duanya. Aduuuh!
Ya sudah. Hanya sebagai pengantar yang tidak jelas.
Minggu ini terasa sangat panjang. Ditambah dengan kehadiran satu warna baru. Mungkin ada baiknya tidak saya jelaskan warna apa itu, karena saya sendiri juga tidak mengerti dia itu warna apa. Merah? kuning? Hijau? Biru? Semuanya? Entahlah. Yang pasti, dia menoreh satu warna yang indah. Minggu ini indah. Begitu banyak harapan yang tumbuh di minggu ini. Anda semua pasti tahu, harapan adalah kunci dari kehidupan. Satu cerita yang menginspirasi saya adalah cerita berikut ini..
Kisah Empat Lilin

Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah lilin Perdamaian.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah lilin Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah lilin Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:

Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

“Akulah HARAPAN.”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

cukup menyentuh bukan.

Kembali ke topik. Minggu ini, harapan itu tumbuh dengan begitu suburnya. Sampai-sampai saya begitu takut untuk berharap. Seperti yang mereka bilang, saya seperti berada di persimpangan. Jika saya berbelok ke kiri, mungkin saya akan begitu banyak berharap, tetapi jika saya berbelok ke kanan, harapan itu tak akan pernah tumbuh lagi, dan jika saya berjalan luruus, saya akan terus berada di antara keduanya dengan penuh ketidakpastian. Hal itu sangat tidak menyenangkan.

*by the way, sepertinya bicara saya berputar-putar ya*

Well, bisa dilihat sendiri betapa bingungnya saya. Sampai menulis pun menjadi amburadul dan tidak karuan. Orang itu yang membawa kuncinya! Dasaaaaaaaaarr! Huhu. Dia membuat saya benar-benar bingung. Ingin berharap tapi terlalu takut, tapi saya ingin! Satu hal yang benar-benar membuat saya enggan menyukai seseorang adalah hal yang semacam ini :(. Hal yang saya tidak pernah bisa saya atasi. Sampai saat ini.


0 comments:

Post a Comment